biarkan kuterjemahkan matamusebab tak ada yang lebih jinggadari segala kata di situkugubah sebaris puisikuletakkan di pinggir jendela tuasaat fajar akan kau bacabumi berangkat tidurduka berangkat hancurleleh dalam pelukanmutergenggam tangan rinduseperti matamu puisiku juga jinggakata dan baitnya memahat rinduyang datang bergemuruhakankah kau terjemahkan jugarindu dari puisiku?
mungkin bagimu masih banyak debuyang kubawa dari masa lalupuing-puing gerimis memenuhi kepaladengan sisa dedaun runtuhsudah kubersihkan dengan tiap abjadyang kau ucap padakudan kuanggap sebagai mantramengiringi semua langkahmasihkah tetap tak kau percaya?bila kata bisa berubahbukankah begitu juga baityang kubawa padamubelenggu yang membuat gigilhingga berserak peluh dan lukabukanlah perih yang terus tertancapdi tiap celah waktu kitapada retak malam yang lelapsambil memeluk harapantataplah alur yang melajudi situ esok kita akan hinggapmemang berkelok harap kitatapi tetaplah abjad dan katatidaklah jadi sia-sia
kau tahuaku sedang bersembunyidi balik tawa yang berdetakyang disebut senang merebakdi situ aku bisa menikmatisepuasnya perihkubungkus dalam senyumanberiring rontoknya dedaunandalam kelambu gerimiskau tahu ketika februari usaiwangi tanah terus menggodatentang penggalan kisah kitayang memang tak pernah selesailalu kita bercanda di tepi senjasambil mengusap jemarimuyang tertusuk duridalam kecup bibirku